Sabtu, 16 Maret 2013

“Indonesia dengan Sumber Daya Alam melimpah"


"Tantangan untuk para Pemimpin”

Seandainya boleh memilih maka Indonesia akan lebih baik berada dalam keadaan yang tidak memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah. Karena Negara dengan kekayaan alam yang melimpah tidak membuat Negara itu menjadi kaya akan tetapi malah menjadikannya menjadi manja dalam mengoperasikan negaranya. Ini akan menjadi sebuat PR (Pekerjaan Rumah) yang besar bagi indonesisa, yang kaya akan SDA ini mengapa sekian lama mengelola SDA tetapi Negara ini tidak kunjung menjadi Negara yang makmur seperti yang dicita-citakan oleh pendiri bangsa ini dan tercermin dalam ideologi pancasila. Kekayaan alam mulai dari gas, minyak bumi, hutan, emas, tembaga dan juga nikel semuanya sebagian besar di eksploitasi oleh peusahaan asing. Misalnya emas dan tembaga yang ada di Irian Jaya, semuanya di eksplorasi oleh PT Freeport yang notabene adalah perusahaan asing, sehingga sebagian besar pendapatan itu lari kepada pihak asing dan apabila dikerucutkan lagi maka akan menjadi keuntungan bagi Negara Amerika Serikat, yang keuntungannya digunakan untuk melakukan bom bardir terhadap Negara-negara islam yang ada di afganistan dan palestina, yang tidak lain adalah saudara kita sendiri. Secara tidak langsung apakah kita tidak ikut berdosa atas bom bardir yang dilakukan oleh Amerika dan sekutunya itu terhadap saudara muslim kita sendiri ????? Dimana ukhuwah islamiyah kita ikhwah………..
Lebih uniknya lagi mengapa semua sumber daya alam yang ada di Indonesia itu bisa di eksplorasi oleh pihak asing. What’s happen with Indonesia present ? Mengapa blok cepu bisa jatuh ke tangan asing, padahal kita tahu bahwa Indonesia mempunyai Pertamina sebagai BUMN yang siap untuk melakukan eksploitasi terhadap kekayaan miyak bumi yang ada di Indonesia. Ini tidak lain adalah karena pemerintahan Indonesia memiliki mental seorang juragan (pemilik) sedangkan pelaksanaanya diserahkan kepada pihak asing, entah atas alasan pendidikan atau alat yang kurang canggih sehingga pelaksanaanya diserahkan kepada Exxon Mobile milik Negara la’natulloh itu. Sedangkan Pertamina hanya mendapatkan bagian 8% dari seluruh minyak yang ada diblok cepu untuk ekplorasi oleh Pertamina.
Sedangkan untuk kekayaan alam yang berupa hutan di Indonesia juga tidak kalah luas dari Negara-negara lain. Indonesia kita yang tercinta ini pada tahun 2005 menempati posisi ke 8 dengan luas hutan 88 juta hektar, tetapi Indonesia juga sangat luar biasa mengalami perubahan luas hutan 1,871 juta hektar dalam pertahunnya. Luas hutan di Indonesia mengalahkan Negara Peru dan India, tetapi juga masih kalah dengan Negara-negara seperti Rusia, Brazil, Kanada, Amarika Serikat, China, Australia dan Kongo. Sehingga muncul sebuah kata-kata bijak bagi Indonesia adalah “Last But Not Least” adalah sebuah tragedi yang terjadi disektor kehutanan yang ada di Indonesia.(Ahmad Erani Yustika : 2009)
Maka saudaraku semuanya, apakah kalian semua akan diam saja dengan kondisi yang seperti ini. Apa yang dapat kita lakukan sebagai mahasiswa ? Dengan kondisi Indonesia yang semakin hari semaki rapuh, tidak adalagi figure pemimpin Indonesia ini di masa depan yang benar-benar bersih dan ber fihak kepada rakyat miskin baik di kota, kampus maupun yang ada didesa. Lihatlah para wakil kita yang duduk di lembaga tertinggi Negara, yang mereka memanggil saudara ataupun musuh mereka dalam parlemen dengan sebutan saudara “Anggota Dewan Yang Terhormat” tetapi apakah mereka benar-benar terhormat ? Sekarang ini seakan warga Negara indonesia sudah kehilangan kepercayaan lagi kepada pemerintahan, seakan mereka sudah muak dengan janji-janji manis para politisi. Tetapi kenyataannya adalah nol kecil, tidak banyak dari anggota dewan yang terhormat itu terjerat berbagai kasus mulai dari nonton bokep sebelum shalat jum’at hingga yang terjerat kasus korupsi. Lalu dimana letak kehormatan mereka yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu yang menghabiskan dana yang tidak sedikit. Apakah masih harus ada Negara yang system demokrasinya seperti Indonesia ini ? Sistem demokrasi yang ada di indonesia tidak menghasilkan seorang pemimpin yang benar-benar sidiq, tabligh, amanah dan fatonah seperti yang dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw pada masa kepemimpinannnya.
Lalu sistem seperti apakah yang cocok untuk Indonesia yang tercinta ini, untuk menciptakan sebuah pemerintahan yang demokratis. Sistem demokrasi pancasila seperti di Indonesia sekarang ini sudah benar-benar gagal total (Bankrut) dalam membentuk sebuah pemerintahan yang demokratis. Menurut penulis pendekatan behavior adalah pendekatan yang cocok untuk Negara Indonesia sekarang ini, karena terbukti bahwa apapun system yang diterapkan di Indonesia maka akan tetap sama saja. Ini membuktikan kelemahan dari pendekatan kelembagaan yang ada. Semua sistem itu pada dasarnya adalah digerakkan oleh beberapa individu, lebih khususnya lagi oleh pemimpin suatu Negara. Apabila pemimpin itu baik maka baiklah Negara itu, tetapi apabila pemimpin itu buruk maka buruklah sebuah kepemimpinan itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar